Roh

 Chapter 1






(1) Kabut tebal.

Rihana, seorang gadis cantik berkulit putih, berambut panjang lurus se bahu, bermata sayu, berhidung mancung dan memiliki senyum manis dari bibir mungil nya. dia adalah gadis semata wayang yang terlahir dari keluarga yang sederhana. Gadis cantik itu hidup di sebuah desa kecil bersama keluarga nya yang bahagia.


Hari ini, Hana sangat sedih, karna minggu depan ia harus pergi ke jakarta untuk melanjutkan sekolah disana (SMA TUNAS BANGSA), dia mendapatkan beasiswa atas kecerdasan nya.


Hana yg selama ini belum pernah berpisah dgn orang tua nya merasa sangat sedih. Namun berkat dukungan dari seluruh keluarga, akhirnya dia membulatkan tekad untuk pergi demi cita-cita yg harus ia gapai.


Satu minggu kemudian...


Kini dengan hati sedih Hana berangkat menuju Jakarta dengan mengendarai bus. Sesampainya di sana, dia di jemput oleh Bibinya di terminal. sang Bibi adalah kakak kandung ayah Hana. Hana akan tinggal bersama Bibi nya di Jakarta, yang kebetulan sang Bibi memiliki putri seusia Hana, ia bernama Nara.


______________________


Jam menunjukkan pukul 04:30 pagi, seperti biasa, Hana si gadis cantik dan juga rajin dalam segala urusan pekerjaan rumah kini terlihat sedang memasak di dapur milik Bibi nya. Bukan hanya itu, dia juga membersihkan seluruh rumah, bahkan mencuci semua cucian yg ada.


Tepat pukul 06:00, Si Bibi keluar dari kamar, sambil mengucek kedua mata tanda baru bangun dari tidur nya. beliau pun kaget, saat melihat sekeliling rumah sudah rapi dan bersih, dan makanan juga sudah tertata rapi di atas meja makan, Hana menyapa bibi nya sambil tersenyum manis.


"Selamat pagi Bi," sapa Hana di sertai senyum yang terukir indah di bibir yang mungil itu.


"Waaah kenapa sudah rapi begini, kamu bangun jam berapa nak ? Sampai sepagi ini sudah menyelesaikan semuanya," tanya Bibi sembari mengepresikan wajah terkejut.


"Hana biasa bangun pagi di desa Bik, jadi udah kebiasaan Hana tiap hari."


"Andai saja Nara sepertimu, pasti Bibi senang sekali, sayang nya dia sangat pemalas, hufff," Sembari menghela nafas.


"Bibi bisa aja. Ya udah Bibi mandi duluan aja, setelah ini Hana mau bangunin Nara,"


"Baiklah Nak."


Bibik Hana kini seorang janda yang tinggal berdua dengan putri semata wayang nya. Dengan kehadiran Hana di rumah nya kini suasana tak sesunyi dulu.


Dengan langkah cepat, Hana menuju kamar Nara yg kini sekarang juga menjadi kamar Hana. Hana membangunkan Nara yg terlelap tidur mirip seperti orang mati.


"Nara bangun, udah pagi, ayo bangun, nanti kesiangan lo, ingat ini hari pertama kita di sekolah!"


Hari ini adalah hari Hana dan Nara masuk SMA, kedua gadis itu berusia 16 tahun.


"Jam berapa sekarang?" Dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Jam 06.00."


"Masih petang kok, Huaaam," Nara menguap lebar.


"Jangan jadi pemalas, cepat bangun !" tegas Hana.


"Huh, Iya iya." Dengan langkah gontai Nara menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian, kini kedua gadis sudah rapi dengan balutan seragam baru nya, rok pendek selutut kotak- kotak berwarna abu- abu, kemeja putih dengan dasi berbentuk silang, dan di luar nya terbalut jas berwarna merah maroon, seragam yang begitu modis dan kekinian.


Mereka pun menuju meja makan untuk sarapan. Matahari sudah terlihat terang menyinari bumi.


"Ini adalah hari pertama kalian di SMA. nikmati hari- hari kalian ya, jangan sampai ada masalah, terutama untuk Nara !" nasihat si Bibi yang sedikit menyudutkan Nara putrinya.


"Hah? Aku? Kenapa aku Ma?"


"Kamu soal nya selalu dapat masalah selama ini di sekolah, Mama harap kali ini kamu berubah dengan ada nya Hana di sisimu,"


"Heeemmm iyaaaa."


Setelah selesai menghabiskan sarapan pagi, merekapun berangkat ke sekolah dengan mengendarai bus.


Tak lama kemudian merekapun sampai di sekolah. Hana menghembuskan nafas, kemudian tersenyum lebar, menandakan bahwa diri nya akan belajar dengan semangat di sekolah ternama di ibu kota ini.


"Hana, kamu duluan aja sana," perintah Nara.


"Nah, emang nya kenapa gak barengan?"


"Aku ada janji ni sama pacar aku. jujur ya, sebenar nya pacar aku juga masuk sekolah ini, kamu jangan bilang- bilang ke Mama ya soal ini"


"Kamu udah punya pacar?"


"Iyaaa. udah jangan berisik, pokok jaga rahasia oke !"


"Em yah, oke. Ya udah aku duluan, nanti telfon ya jangan lupa,"


"Oke Han."


Hana pun melangkah menelusuri koridor sekolah. Dan disana banyak sekali siswa- siswi baru yg mungkin akan menjadi teman sekelas nya.


Beberapa saat kemudian, seperti biasa, sekolah elit di jakarta, sebelum membagi kelas untuk murid baru, para guru memilih bagian murid dengan IQ tinggi untuk masuk kelas 1A,


Sedangkan yg IQ sedang masuk kelas 1B, dan IQ terendah masuk kelas 1C.


Disini Rihana yg merupakan siswi ber IQ tinggi masuk kelas 1A, dan Nara yg IQ nya rendah masuk kelas 1C.


"Yah Han, kita beda kelas,aku kira kita bakalan sekelas," dengan wajah kecewa.


"Gak apa2 kok Nara, semangat! ku harap selesai ujian nilai kamu naik dan kita bisa satu kelas."


"Semoga saja. emmmmm, pacar aku satu kelas sama kamu, jagain dia ya, jgn biarin dia ngelirik cewek lain,"


"Oke, tenang aja."


"Ya udah kita pisah disini ya, "


"Oke."


Kedua gadis itupun berpisah menuju kelas masing-masing.


___________________________


Beberapa hari kemudian...


Sepulang dari sekolah, kedua gadis itu pulang dengan berjalan kaki santai.


Sesampainya di rumah, mereka pun bergantian untuk mandi, karna memang di rumah itu hanya ada satu kamar mandi yang terletak berdampingan dengan dapur.


Selesai dari ritual mandinya mereka mulai merebahkan badan mereka di atas tempat tidur.


"Nara," Hana memecah keheningan.


"Ya ada apa Han?"


"Aku berencana untuk cari kerja paruh waktu,"


"What? Ngapain kerja, lagian kamu sekolah disini karna beasiswa, Bibi dan Paman pasti akan marah kalo tau, Mama juga gk bakalan buat kamu kekurangan makan kok."


"Bukan gitu Nara, aku cuma pengen mandiri aja. kamu mau gk bantuin aku cari kerjaan disini?"


"Ah kagak lah, nanti kalo ketahuan bisa aku yg kena marah."


"Mereka gak bakalan tau kok, selama kamu merahasiakan, ya plissss," Hana memohon dengan wajah memelas.


"Aduuuh kamu kok gitu sih, Oke deh, tapi janji ya, misalkan sampek orang tua kamu tau, jangan bawa-bawa nama aku,"


"Iya Nara, aku janji."


Di sore harinya, Hana dan Nara berkeliling untuk mencari pekerjaan paruh waktu.


"Jadi kita akan cari pekerjaan di sebuah Toserba (toko sejenis indomaret) aku rasa itu cocok buat kamu Han,"


"Iya Nara, kita cari sif sore sampai malam. jadi sepulang sekolah aku langsung kerja."


"Lah, nanti kalo Mama nanyain gimana,?"


"Aku mohon sama kamu, carikan alasan yang tepat ya,"


"Hemmm Okelah."


Setelah berjam-jam menelusuri kota metro politan, akhir nya mereka mendapatkan apa yang Hana inginkan. Hana sangat senang, dan berterima kasih pada Nara yang membantunya.


Hari sudah mulai gelap, kedua gadis itu berjalan dengan terburu-buru. takut Mama Nara pulang dari kerja lebih dulu dari mereka.


"Han, kita lewat jalan pintas saja, lewat lorong ini, agar cepat sampai."


"Tapi lorong ini seperti nya sepi dan gelap,"


"Udah gak apa-apa."


"Gak ah Nara."


"Kamu takut?"


"Bukan gitu, emang kamu pernah lewat sini sebelum nya?"


"Kagak. Cuma gak apa-apa, aman kok, yuk."


Tanpa ragu-ragu, Nara menarik tangan Hana, merekapun memasuki lorong sempit itu, entah kenapa bulu kuduk mereka mulai berdiri. Namun mereka terus masuk dalam lorong sempit dan gelap tersebut.


Kini mereka masuk jauh dalam lorong itu. dari kejauhan, Nara seperti melihat sebuah kabut hitam tebal mendekat ke arah mereka.


"Han, kabut hitam itu, apa kamu melihat nya?"


"Ouh, ya aku melihat nya, sepertinya ini ada yang tidak beres, kita harus cepat pergi dari sini,"


Mereka berdua berbelok arah, dengan langkah berlari menghindari kabut hitam pekat itu Namun tak sengaja, Hana terjatuh.


"Hana, ayo cepat," Nara menarik tangan Hana. Namun Hana tak bisa berdiri, ia meringis kesakitan.


"Nara, tidak apa-apa, cepat pergi dari sini, aku akan baik-baik saja. "


"Gak, aku gak bisa ninggalin kamu sendirian,"


"Percalah padaku, cepat keluar dari sini, carilah bantuan."


"Baiklah, aku akan segera kembali."


Nara pun berlari keluar dari sana dengan tenaga yang masih tersisa. beberapa menit kemudian, Narapun sampai di keramaian, ia berteriak histeris meminta pertolongan.


"Tolong, tolong, saudara saya terjebak di lorong sana,"


Beberapa orang mengikuti Nara yang gemetar ketakutan menuju lorong kecil dan gelap tersebut.


"Kamu lewat lorong ini barusan?" Tanya seseorang dari mereka.


"Iya paman, kami mencari jalan pintas menuju pulang,"


"Setau saya, lorong ini tidak boleh di lewati disaat bulan purnama seperti malam ini."


"Yang benar paman?"


"Seperti itulah yang saya dengar,"


"Saudara saya masih ada di dalam paman, bagaimana ini hiks hiks hiks," Nara menangis sesenggukan.


Tanpa pikir panjang, merekapun masuk kedalam lorong gelap itu untuk mencari Hana.


Dari kejauhan terlihat sosok Hana mendekat.


"Itu saudara saya," Narapun berlari ke arah Hana.


"Hana, kamu gak apa-apa?"


Hana hanya tersenyum miring, wajahnya pucat dengan lingkaran hitam di sekitar mata nya.


"Hana, kamu pasti ketakutan banget ya, ya tuhan sampai pucat gini. maaf kalo aku terlambat,"


Hana hanya diam tak menanggapi. dan Narapun membimbing Hana pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Hana langsung terlelap tidur tanpa membersihkan diri seperti biasa nya. Namun Nara tak berani menegur, karna mungkin Hana trauma atas kejadian tadi.


Bersambung...


Chapter 2

(2) Gadis aneh.

Jam menunjukan pukul 06:30, pagi ini sangat berbeda, Hana yang biasa nya bangun paling awal, kini dia masih terlelap tidur saat Si Bibi dan Nara sudah siap untuk sarapan.


"Nara, kok tumben Hana belum bangun jam segini?," Ujar sang Mama penasaran.


"Ah, mungkin dia kecapean Ma, soal nya semalam Nara lihat Hana belajar sampai malam. biar aku bangunin ya Ma." Nara berbohong, karna takut si Mama curiga.


Nara memakluminya, karna kejadian semalam, mungkin Hana masih kecapean dan trauma.


"Hana, bangun, udah siang," Tangan Nara menggoyang tubuh Hana pelan.


Perlahan Hana membuka kelopak mata nya, dengan pandangan kosong, ia berdiri dan menuju kamar mandi. dengan perasaan tidak enak Nara pun melangkah keluar kamar menuju meja makan "Ada apa dengan Hana? Kenapa dia aneh sekali dari semalam" batin nya.


Beberapa menit kemudian, Hanapun keluar dari kamar dan mendekati meja makan, dan saat itupun Bibi dan Nara terheran-heran dengan penampilan Hana, Hana yang biasa nya tampil sederhana, wajah polos tanpa make up, rambut biasa di ikat atau biasa di kepang, kini telah berubah.


kini Hana memoles wajah nya , dengan Lipstik berwarna pink, rambut di biarkan ter urai rapi, dan saat itu Hana terlihat sangat cantik menawan.


Setelah selesai sarapan, kedua gadis itupun berjalan menuju halte bus.


Sambil menunggu bus datang, Nara pun memulai membuka mulutnya yang memang dari tadi tak ada satu patah katapun yg keluar dari mulut mereka.


"Hana, kamu gak apa-apa kan?,"


"Emang aku kenapa?," jawab nya ketus.


"Soal nya dari tadi malam kamu berubah."


"Berubah?,"


"Iya, kamu dingin banget, dan jadi pendiam gini."


"Dari dulu aku juga begini"


"Enggak, kamu kemarin ramah banget orang nya, dan kamu juga bukan tipe orang yang suka pake make up."


"EMANG CUMA KAMU AJA YANG BOLEH PAKE MAKE UP HAH!!!," tiba-tiba Hana marah, dan itu membuat Nara kaget bukan main.


"Enggak, bukan gitu Han, aku cuma_"


"Udah deh, gak usah banyak ngomong." Hana marah ber api2, dia benar2 sangat berbeda dari biasa nya, kini Hana yang dulu penurut, ramah, sopan, dan baik sudah hilang


Semenjak kejadian tadi malam, Hana kini menjadi gadis yg dingin, jutek dan mudah emosi.


_________________


Hari berganti hari, dan satu bulan pun berlalu, Hana masih dengan sifat dingin nya, semua teman sekelas nya yang dulu sangat menyukai nya kini semua berubah membenci nya, dan hampir semua anak di sekolah membencinya.


Kini Hana lebih sering menyendiri. Nara yang masih setia, selalu mengawasi Hana dari kejauhan.


"Han, besok hari libur, gimana kalo kita ke pantai bareng," Nara membuka percakapan di tengah-tengah kesunyian di antara mereka yg kini sama- sama di sibukkan oleh ponsel masing- masing.


"Males." jawab Hana singkat.


"Kok gitu sih, kita lama loh gak liburan bareng-bareng," bujuk Nara, dan Hana hanya diam acuh tak acuh.


"Han pliiissss,"lanjut Nara


"Aku sibuk." Hana tetap pada layar ponsel nya.


"Kok gitu sih Han,"


"Aku mau pergi kerja."


"Han, kok gitu, plis besok ya,"


Tanpa menjawab nya Hana Melangkah meninggalkan sepupu nya itu.


Seperti biasa, Hana duduk dengan pandangan kosong memakai seragam toserba nya menunggu pelanggan datang.


Beberapa jam berlalu, dan kini pelanggan sudah pergi berlalu lalang, disaat jam sudah menunjukkan bahwa Sif nya telah berakhir. Tiba-tiba seseorang datang memgambil barang dan menuju kasir tempat Hana duduk standbye menunggu pembeli. dia adalah seorang pria muda tampan, dengan kulit putih, dan bertubuh tinggi.


"Semua 265.500 ribu Rupiah" Hana dengan nada datar nya.


Kemudian pria itu pun membayar dengan uang tunai di sertai dengan senyum manis di bibir nya. pria itu menatap Hana. Namun Hana tak menyadari hal itu.


"Apa ada hal lain lagi?," Tanya Hana


"Ah, tidak, terima kasih!"


"Pintu keluar nya ada disana!" Hana menunjuk pintu keluar yang terbuat dari kaca anti pecah yang bertuliskan, Tarik Dorong.


_______________


Di suatu pagi yang cerah, terlihat sosok pemuda tampan dengan seragam SMA sedang melihat keluar jendela mobil nya.


Alex Alfino, pemuda tampan yg terlahir dari keluarga kaya raya, orang tua nya adalah seorang Presdir dari sebuah perusahaan produk kecantikan yang sudah terkenal karna telah terbukti khasiatnya dan sudah teruji klinis. ibunya mendirikan sebuah butik dimana yang harga baju dan aksesoris di sana sampai berpuluh-puluh juta.


Alex Alfino, yang biasa di panggil dengan Alex, pemuda yg baik hati, lemah lembut, dan ceria. Hari ini dia akan sekolah di SMA Tunas bangsa, dia di pindahkan dari Jogyakarta ke Jakarta karna orang tua nya mendirikan cabang bisnis di Jakarta.


Beberapa saat kemudian, Alex, yg mendengar nama nya dipanggil oleh guru, mulai melangkahkan kaki masuk di sebuah kelas elit khusus siswa- siswi dengan IQ tinggi, karna Alex termasuk murid dengan otak komputer.


Alex pun berdiri tegap di depan para murid-murid di dalam kelas tersebut.


"Hai semuanya, nama ku Alex Alfino, kalian bisa panggil Alex, aku pindahan dari Jogjakarta, mohon bantuan nya," Alex dengan senyum cerah nya, membuat seluruh gadis-gadis di sana berteriak histeris, kagum dengan murid baru yang super tampan itu.


"Alex, kamu bisa duduk di dekat Hana," perintah guru, karna memang hanya Hana lah yg duduk sendirian.


Alex memandang Hana yg fokus pada buku-buku di tangan nya, kemudian melangkah menuju bangku dimana Hana berada.


"Hai, aku akan duduk di sebelah mu," sapa nya.


"Ya." sahut Hana cuek, dan tetap fokus pada buku-buku nya.


Setelah selesai jam pelajaran, Alex mencoba membuka percakapan dengan gadis yang duduk di sebelah nya.


"Kamu Hana ya, kenalin aku Alex," Sembari mengulurkan tangan nya.


Hana diam tak menanggapi.


"Emmm bukan kah tadi malam kita sudah bertemu, seharus nya kita bisa lebih akrab." lanjut nya.


"Entah, aku tidak ingat."


"Toserba, coba lihat aku," dengan senyum ceria.


Hana sedikit melirik. "Benarkah? Maaf aku lupa," kemudian Hana beranjak melangkah meninggal kan Alex yang terheran- heran dengan sifat si gadis.


"Hai Alex," panggil seorang gadis yang kini tepat duduk di bangku belakang nya.


"Iya, ada apa?,"


"Pasti sulit kan?,"


"Sulit? Maksud nya?,"


"Sulit lah sebangku dengan Hana, dia itu cewek teraneh di kelas ini!"


"Maksud nya?,"


"Mau gak aku ceritain?,"


"Ya boleh,"


"Dulu nih ya, awal-awal dia masuk sekolah ini, dia gak kayak sekarang, dia dulu ramah banget, ceria, sopan, dan baik banget orang nya, tapi semenjak malam itu dia berubah banget huuuuffff," gadis bernama Rara itu menghela nafas panjang


"Emang kenapa malam itu?,"


"Aku dengar-dengar sih, malam itu si Hana sama si Nara sepupu nya baru pulang dari mencari kerja paruh waktu, terus mereka melewati Lorong kecil dan gelap yg gk boleh di lewati saat bulan purnama. Namun mereka lewat sana pas bulan purnama, dan pada saat itulah Hana jadi berubah,"


"Lalu bagaimana dengan sepupunya?,"


"Sepupunya baik-baik aja,"


"Hahahaha,,,," Alex tertawa lepas


"Kok ketawa?,"


"Lucu aja, jaman moderen kayak gini masih percaya begituan,"


"Lah, beneran loh,dulu Hana orang nya baik banget, sekarang dia jadi psychopath gitu gara-gara malam itu,"


"Hah? Psychopath? Gak usah berlebihan deh,"


"Beneran nih, beberapa minggu lalu, semua anak di sekolah ini liat sendiri kalo dia memukul Ronald pakai sapu sampek Ronald pingsang, padahal Ronald adalah preman sekolah yang terkenal ganas nya. pokok nya jangan Sampek buat dia kesal, dia selalu main pukul-pukul aja tanpa pikir panjang,"


"Gak usah ngarang,"


"Ya udah kalo gak percaya, nanti kamu juga bakalan tau sendiri kok," gadis itu pun pergi dengan kesal karna Alex tak mempercayai cerita nya.


Bersambung...


Chapter 3

(3) Memancing emosi.

Jarum jam terus berputar. di sana, di sebuah toserba Hana sibuk dengan pekerjaan paruh waktu.


Bukan hal baru lagi, jika pemuda tampan bernama Alex datang untuk menemui nya, walau pun hanya sekedar membeli air mineral dia berusaha untuk terus mendekati gadis cantik itu.


"10.000 ribu." Hana dengan suara datar nya.


Alex menyerahkan uang selembar 100.000 an.


Hana mengambil uang selembar 50.000, dan dua lembar 20.000 di laci.


Ia menyodorkan uang kembalian itu pada pemuda di depan nya.


"Ambil saja kembalian nya,"


"Aku bukan pengemis!"


"Ah baiklah," Alex pun mengambil uang tersebut, lalu memasukkan ke dalam saku celana nya.


Kemudian keluar, dan duduk di bangku depan toserba, ia berniat menunggu si gadis disana.


Satu jam kemudian, Hana pun bergegas melepas seragam toserba nya, yang berupa rompi berwarna biru.


karna sudah ada orang yg datang untuk mengganti sif nya, gadis itu keluar dari toserba, dan melewati Alex yg duduk disana, tanpa menyapa Alex pun mengikuti si gadis. seperti biasa Hana tetap acuh dengan apa yang dilakukan pemuda tampan yang selalu membuat nya terganggu.


Namun semakin lama Hana pun merasa risih.


"Apa yang kau lakukan?,"


"Aku? Ah, aku mengikutimu!"


"Kenapa kau mengikutiku?,"


"Aku? Aku hanya ingin lebih akrab saja!"


"Kenapa aku?,"


"Karna kamu, karna kita satu bangku, ya kita satu bangku,"


"Aku tidak mau!"


"Tidak mau?,"


"Ya,"


"Tidak mau apa?,"


"Akrab dengan mu!"


"Kenapa kamu tidak mau menjadi temanku?,"


"Berhentilah mengekoriku!" Hana pun mulai melangkah lagi meninggalkan Alex yang masih mematung di tempat nya.


_________________


Beberapa hari kemudian, seperti biasa, Alex pemuda tampan dengan wajah ceria nya itu tetap saja mencoba mendekati Hana tanpa lelah walaupun kadang kata-kata Hana sering kali menyakiti nya.


Di sebuah bangku, Hana si murid jenius dan rajin sedang membaca buku- buku nya.


dan di sana, Alex memandang Hana. menaruh kepala nya di atas bangku dengan berbantalkan tangan yang ia lipat.


"Bisakah kau berhenti," Hana dengan nada kesal. Namun Alex hanya menggelengkan kepala membuat Hana semakin kesal.


"Pergilah, aku muak," Alex menggeleng lagi.


"Baiklah, jika kau tidak mau pergi, biar aku saja yg pergi," Hana pun melangkah pergi, dan Alex pun mengikuti Hana yang menuju atap gedung sekolah. disana Hana melanjutkan membaca buku yang sempat tertunda tadi. Namun Alex masih mengikuti nya, dan membuat nya emosi.


"Huuufffzz," Hana mendengus kesal.


"Membacalah, aku hanya diam kok, gak akan mengganggumu,"


"Kau sudah melewati batas, dan slama ini aku sudah cukup bersabar," tiba-tiba mata Hana mulai memerah, begitupun dengan wajah nya, amarah mulai menguasai diri nya. dan itu membuat Alex mengerutkan dahi. akhir nya dia berhasil memancing amarah Hana, sebenar nya selama ini ia sengaja mendekati Hana untuk membuktikan kabar yang ia dengar.


Alex menunggu apa yang akan Hana lakukan selanjut nya.


"Marilah kita berteman, aku hanya ingin kita berteman, apa sebegitu sulitkah?," Alex memancing.


"Pergi dari sini, sebelum_"


"Sebelum apa?," Alex sengaja memutus perkataan gadis itu.


Hana tersenyum sinis, kemudian ia mengambil sebuah kayu dan mulai melayangkan kayu tersebut pada Alex. Namun Alex tidak tinggal diam, ia yang memiliki bela diri yang cukup hebat, menangkis dengan memegang kayu tersebut dengan tersenyum menegejek ke arah Hana. Hana semakin marah, dan ia semakin mengamuk. Namun Alex selalu berhasil lolos dari pukulan- pukulan yang di layangkan gadis itu. dan Alex berhasil mengunci Hana, Hana pun tak dapat menggerakkan tubuh nya, gadis itu berteriak histeris sambil berusaha mencoba melepas diri nya dari Alex.


"Lepaskan aku, atau aku bunuh kau!"


"Bagaimana bisa kau membunuhku?,"


"Lepaskan aku bajingan,"


"Hey, Hana kau seorang pelajar, dan kau murid yang pintar, tidak baik seperti ini!"


"Bukan urusan mu bajingan, lepaskan!"


"Lepaskan saja sendiri, jika kau bisa!"


Tiba-tiba gadis itu merasa pusing, kemudian ia terjatuh tak sadarkan diri.


"Hana, sadarlah, Hana," Alex panik sambil menepuk-nepuk pipi cubby gadis itu.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Hana mulai membuka mata nya perlahan, kepala nya terasa pusing, pandangan nya kabur, samar-samar ia melihat sosok pria sedang memeluk tubuh mungil nya sambil memanggil-manggil nama nya.


"Hana, kamu sudah sadar?,"


"Ouh, apa yang telah terjadi?," tanya Hana bingung, dan Alex pun juga bingung, karna nada suara Hana yang tiba-tiba berubah. Hana yg biasa nya selalu datar, kini berubah menjadi lembut.


"Kamu tidak mengingat nya?,"


Sambil memegang kedua pelipis nya, Hana mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. dia terkejut dan hendak menangis, dia ingat semuanya. apa yg telah ia lakukan selama ini, ia mengingat semua sifat buruk nya.


"Tuhan, apa yang selama ini aku lakulan?," Hana menangis sambil mengacak-acak rambut nya frustasi.


"Apa maksud mu?," tanya Alex kebingungan


"Maaf kan aku,"


"Maaf?,"


"Maafkan aku, aku tidak tau kenapa aku jadi begini, aku gak tau kenapa kadang aku tidak bisa menahan emosiku," air mata Hana mengalir deras.


"Sungguh aku tidak mengerti maksud mu,"


"Percayalah padaku, aku bukan orang seperti itu, aku bukan seorang Psychopath, percayalah padaku, aku juga tidak tau kenapa selama ini aku jadi seperti ini," Hana menangis histeris ketakutan, Alex yang tidak tau harus berbuat apa, ia pun membawa Hana dalam pelukan nya, mencoba menenangkan gadis itu.


"Hana, aku percaya padamu, sudah lah, jangan menangis lagi, ku harap mulai sekarang kamu bisa kembali ke sifat baikmu lagi,"


"Malam itu," Hana mencoba mengingat kejadian malam itu.


"Ya? Ada apa?,"


"Aku harus pergi," Hana bangkit, dan berlari, Alex pun mengejar nya, ia berlari jauh, dan akhir nya sampai di sebuah lorong kecil , Hana pun memasuki lorong kecil itu dengan di ikuti Alex.


"Kenapa kau kesini Hana?,"


"Aku yakin ada yang tidak beres dengan lorong ini, semenjak malam itu, aku jadi tidak bisa mengendalikan emosiku," Hana dengan nada lembut nya yang sudah lama tidak terdengar.


"Tapi jalanan ini hanya jalanan biasa, tidak ada yang aneh sama sekali,"


"Tapi waktu itu, aku ingat jelas, aku dan Nara, Aaaaww," Tiba- tiba Hana memegang kepala nya kesakitan.


"Hana apa yang terjadi?,"


"Kepalaku, kepalaku sakit!"


"Hana, kamu mimisan?,"


Hanapun mengelap darah segar yang mengalir dari hidung nya.


"Ayo aku antar kamu pulang,"


"Tapi aku harus menyelidiki tempat ini,"


"Kita selidiki lain waktu, aku janji akan membantumu,"


"Tapi_"


"Naiklah ke punggungku, kau sudah pucat dan lemas begitu, ayo aku antar pulang,"


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri,"


"Naiklah," nada Alex sedikit meninggi.


"Ouh, baiklah," akhir nya Hana menuruti Alex, dan Alex pun mengantar Hana pulang.


Sesampai nya di tempat tujuan, Nara dan Bibi nya terkejut karna Hana terlihat lemas dengan darah berceceran membasahi seragam bagian bahu pemuda tampan Yang menggendong nya.


"Hana? Ada apa dengan Hana?," tanya sang Bibi panik.


"Saya rasa dia sakit Bi, dimana kamar Hana? Biar saya antar ke kamar nya,"


Bibi pun mengantar Alex menuju kamar Hana, dan membaringkan nya di ranjang.


"Nara, ambilkan air hangat, dan panggil dokter,"


"Baiklah ma,"


___________________


"Bagaimana dengan keponakan saya dok?,"


"Keponakan ibu tidak apa-apa, dia hanya kecapean saja, suruh dia istirahat selama dua hari, dia akan sembuh, dan ini resep obat nya," kata dokter sembari menyodorkan lembaran kertas yang tertuliskan resep obat disana.


"Syukurlah, terima kasih dok,"


"Sama-sama,"


Alex menunggu di ruang tamu dengan di temani Nara


"Kenapa kamu bisa sama Hana? Apa yang sebenar nya terjadi?,"


"Maaf, boleh aku mengajukan pertanyaan lebih dahulu padamu?,"


"Ah? Ok silahkan,"


"Apa yang sebenar nya terjadi malam itu?,"


"Malam itu?,"


"Ya, malam dimana Hana jadi berubah menjadi gadis aneh."


"Ah itu, malam itu,bla bla bla" Nara pun menceritakan semua insiden malam itu.


"Aneh sekali,"


"Aku sungguh merasa bersalah pada Hana, seandai nya aku tidak memaksa nya untuk lewat jalan itu, dia tidak mungkin seperti ini,"


"Semua sudah terjadi, lebih baik sekarang kamu bantu aku dan Hana untuk menyelidiki semua ini,"


"Baiklah,"


"Hana sekarang sudah kembali pada sifat baik nya, kau jaga dia ya, takut saja dia akan kembali pada sifat buruk nya lagi,"


"Benarkah? Syukurlah, aku memang sudah sangat merindukan sifat Hana yang dulu,"


"Kalau begitu aku permisi,"


"Tunggu,"


"Ada apa?,"


"Kenalin, aku Nara, kamu Alex Alfino siswa pindahan itu kan?,"


"Iya, benar."


"Salam kenal ya,"


Alex menganggukan kepala nya dan kemudian berlalu pergi.


Bersambung...



Komentar